Jamu Sepak Bola Bernama Pertandingan Pemanasan
Sepak bola tak mati di Eropa. Setelah Piala Dunia berakhir, klub-klub Eropa langsung tancap gas menggelar serangkaian pertandingan uji coba. Ada beragam laga uji coba, mulai dari pertandingan biasa hingga dalam bentuk turnamen yang melibatkan sejumlah klub berkualitas, sebagaimana Trofil Emirates di London atau International Champions Cup di Amerika Serikat.
Manajemen klub di Eropa paham, ada dua manfaat dalam laga uji coba: keuntungan finansial dan memperkuat kualitas klub sebelum memasuki musim kompetisi sesungguhnya. Keuntungan finansial terutama diperoleh dari serangkaian promosi yang semakin menjulangkan nama klub. Belum lagi 'fee' yang diterima dalam setiap pertandingan, terutama dari hak komersial siaran televisi.
Manfaat lain, tentu saja, ini ajang pemanasan untuk mempersiapkan pemain. Setelah musim kompetisi 2013/2014 berakhir, ada dua tujuan pemain papan atas: memperkuat tim nasional di Piala Dunia dan berlibur jika mereka tak dipanggil memperkuat timnas. Dua hal ini tentu memiliki kensekuensi bagi klub jelang kompetisi, yakni fitness dan adaptasi pemain setelah sekian bulan tak bermain bersama dalam satu unit.
Selain untuk memulihkan kesiapan fisik para pemain, pertandingan uji coba menjadi ajang evaluasi pelatih untuk penerapan taktik dan strategi baru. Penyesuaian taktik dan strategi baru ini menjadi sesuatu keniscayaan, mengingat sejumlah klub mendatangkan pelatih dan pemain-pemain baru.
Sebut saja Manchester United yang harus membuat penyesuaian gaya main, setelah Louis Van Gaal datang dengan formasi 3-5-2 atau 3-4-3 dan 5-3-2. Formasi yang digunakan van Gaal saat memimpin Belanda dalam Piala Dunia ini asing bagi para pemain United yang terbiasa dengan pola 4-4-2 atau empat bek sejajar.
Liverpool kehilangan Luis Suarez yang hijrah ke Barcelona dan mendatangkan sekian pemain baru. Manajer The Reds Brendan Rodgers perlu bekerja keras membangun tim yang berbeda dengan skema saat Suarez ada. Jika dulu titik serangan Liverpool tertumpu pada Suarez dan Daniel Sturridge, kini Rodgers membangun skuad yang memungkinkan semua lini menjadi sumber gol nan tajam. Tentu saja ini butuh penyesuaian.
Manajer klub biasanya tak memforsir anak asuhnya dengan menggelar pertandingan uji coba dalam jumlah berlebihan. Laga uji coba yang terlalu sering justru merugikan, karena berpotensi membuat pemain cedera sebelum pertandingan sesungguhnya.
Para manajer juga tak asal memilih lawan dan menentukannya berdasarkan prioritas tahapan konsolidasi tim. Tak heran jika klub-klub tenar Eropa tak selalu memilih lawan yang sepadan. Liverpool pada awal-awal memilih melawan Preston North End dan Brondby, sebelum akhirnya berujicoba melawan AS Roma, AC Milan, atau Manchester City. Juventus malah memilih berhadapan dengan Lucento, sebuah klub amatir.
Tak semua pertandingan uji coba menghasilkan kemenangan. Kemenangan memang bukan tujuan dalam sebuah pertandingan pramusim. Pelatih lebih suka melihat kemampuan pemain menjalankan taktik dan instruksi yang diberikan.
Namun bukan berarti kemenangan tak penting. Kekalahan beruntun dalam laga uji coba turnamen di Amerika Serikat sebagaimana dialami Real Madrid tentu menjadi alarm peringatan dini bahwa ada yang keliru dalam kinerja tim. Pelatih perlu bekerja keras membenahi tim sebelum roda kompetisi berputar.
Pertanyaan penting bagi kita di Indonesia: seberapa seriuskah pemahaman kita terhadap laga uji coba untuk tim nasional? Tim nasional U19 dan U23 akan menghadapi turnamen penting dalam waktu dekat. Tentu serangkaian laga uji coba diperlukan untuk menjadi bahan evaluasi tim. Keuntungan komersial dari laga uji coba tersebut memang penting. Namun tak boleh mengalahkan kepentingan teknis.
Uji coba yang benar dalam frekuensi yang tepat tak ubahnya jamu dalam dosis yang benar: bisa menguatkan dan menyehatkan. Jika salah dosis, malah bisa keracunan dan bikin lemas. [wir]
Rating: 100% based on 975 ratings. 91 user reviews.