Inilah Kekecewaan Terbesar Ketua PKNU di DPRD Jember
Jember (beritajatim.com) - Efektivitas dan kedisiplinan waktu di DPRD Jember, Jawa Timur, periode 2009-2014 menjadi sumber kekecewaan terbesar Latif Najmuddin, anggota Komisi D Bidang Kesejahteraan dari Partai Kebangkitan Nasional Ulama.
Latif menjadi anggota DPRD Jember hanya dalam rentang waktu 10 bulan menggantikan antarwaktu legislator PKNU yang menyeberang ke Partai Gerakan Indonesia Raya. Namun dalam rentang 10 bulan itu, ia sudah bisa melihat kelemahan para wakil rakyat di parlemen dalam mengefisiensikan dan mengefektifkan waktu.
"Banyak hal (kegatan) di gedung DPRD ini terlalu lama dan molor, seperti misalnya rapat paripurna. Saya sendiri punya prinsip seperti Jokowi: ngono ngono mbok ojo ngono (begitu ya begitu namun jadi begitu). Jadi ke depan, sekretariat DPRD perlu memperbaiki ini," kata Latif yang juga Ketua Tanfidz Dewan Pimpinan Cabang PKNU Jember.
Di tengah masih kurang disiplinnya anggota DPRD Jember dalam memanfaatkan waktu, Latif masih menemukan sosok panutan seperti Miftahul Ulum (wakil ketua DPRD dari Partai Kebangkitan Bangsa) dan Marzuki Abdul Ghafur (wakil ketua DPRD dari PKNU). "Saya mengagumi Cak Ulum dalam memimpin rapat," katanya.
Namun di samping masalah kedisplinan waktu, selama menjadi anggota DPRD hingga menjelang berakhirnya masa jabatan Agustus 2014 ini, mantan aktivis mahasiswa di Jogjakarta itu menemukan hal penting lainnya: soliditas dalam berpolitik.
"Saya banyak belajar dari teman-teman senior saya di PKNU, PKB, dan teman partai lain, bahwa ternyata politik sangat dinamis, sangat berarti. Maka hiduplah selalu berpolitik," kata Latif.
Latif tertarik dengan kedewasaan berpolitik para anggota legislator DPRD Jember. Kesan permusuhan antarpolitisi sebagaimana yang disangkakan masyarakat saat pemilu ternyata tak terbukti. "Seberapapun kerasnya kompetisi saat pemilu, namun saat duduk menjadi anggota Dewan harus bisa melepaskan kotak-kotak kepartaian dan sama-sama memperjuangkan rakyat yang telah memilih mereka," katanya.
Latif terkejut, ternyata bisa berkawan baik dengan legislator yang berbeda ideologi. "Saya ternyata bisa berteman dengan orang Marhaen. Orang ahli sunnah adalah orang yang tawasud, tasamuh, (berada di tengah, Red). Kita harus bisa berdekatan dengan orang Marhaen, orang PKS. Apalagi kalau sama-sama punya substansi memperjuangkan rakyat, duduknya sama-sama enak," katanya.
Selama menjadi anggota DPRD Jember, Latif sudah berusaha maksimal memperjuangkan idealisme politik ahlussunnah wal jamaah. Namun ia sadar, apa yang dilakukannya kurang maksimal. "Saya berpolitik hanya di PKNU dan saya jadi anggota Dewan hanya beberapa bulan. Jadi masih belajar," katanya.
Medio Agustus 2014 ini, Latif akan lengser dari kursi parlemen digantikan anggota Dewan hasil pemilu tempo hari. Ia belum tahu akan menyeberang ke mana, setelah PKNU tak bisa ikut serta dalam pemilu lalu. "Saya akan tetap berpolitik. Nanti kami kumpul sama teman-teman (untuk membicarakan) mau ke mana, orang-orang mendengarkan aspirasi masyarakat. Kalau PKNU tidak bisa lagi, enaknya ke parpol mana. Karena menurut saya setelah jadi anggota Dewan, berpolitik sangat penting, maka teruslah berpolitik," katanya. [wir]
Rating: 100% based on 975 ratings. 91 user reviews.