Selasa, 29 April 2014

Awas! Berakhir dengan Status Mantan Bakal Capres?

Awas! Berakhir dengan Status Mantan Bakal Capres?

Surabaya (beritajatim.com)--Siapa figur cawapres yang bakal digandeng Aburizal Bakrie (ARB) di bursa pemilihan umum presiden (Pilpres) 9 Juli 2014 nanti? Parpol mana yang secara resmi-formal telah menjalin koalisi dengan Partai Golkar untuk mengusung ARB sebagai capres?

Kedua pertanyaan mendasar itu belum ada jawabannya sampai sekarang. ARB belum bisa menentukan siapa cawapres yang bakal digandengnya. Golkar pun sampai hari ini belum secara resmi menemukan mitra koalisi yang bakal berjalan bersama-sama menapaki kontestasi Pilpres 2014.

Yang berkembang akhir-akhir ini justri aspirasi arus bawah dan atas Golkar yang makin menguat dan mengkristal pada dua hal: Pertama, evaluasi komprehensif kepemimpinan ARB dikaitkan dengan prestasi politik partai ini di Pileg 2014, di mana Golkar hanya mampu merebut 14,30% suara dan finish di posisi kedua di bawah PDIP.

Kedua, pemikiran untuk mereview pencapresan ARB dari Golkar. Ada keyakinan kuat di sebagian elite Golkar bahwa peluang elektoral ARB dipastikan kalah vis a vis Prabowo Subianto dan Jokowi jika ketiga tokoh itu masuk dan bertarung di Pilpres 2014.

Sebagian elite Golkar, satu di antaranya mantan Ketua Umum Akbar Tandjung, yang melontarkan pemikiran agar partai ini men-downgrade target politiknya dari mengusung capres turun satu level hanya menyorongkan cawapres. Argumentasinya, tentu didasarkan pada realitas teknis politik bahwa Golkar tak mungkin memenuhi syarat untuk mengusung capres-cawapres dengan modal politiknya sendiri.

Pola politik tebar jaring kapal trawl mulai diwacanakan elite Golkar. Maksudnya, parpol ini memberikan kesempatan politik kepada kader-kader potensialnya sebagai cawapres dengan boarding pass parpol lain. Nama M Jusuf Kalla (JK), Akbar Tandjung, Letjen Purn Luhut Binsar Panjaitan, dan Priyo Budi Santoso disebut-sebut layak disorongkan sebagai cawapres.

Dengan demikian, siapa pun yang tampil sebagai pemenang pada Pilpres 2014 nanti, kemungkinan besar ada saham politik yang ditanamkan elite Golkar, sehingga parpol ini memiliki justifikasi politik masuk dalam kabinet dan mengelola pemerintahan.

Dari sekian nama tokoh Golkar yang 'dipasarkan' sebagai cawapres, tampaknya nama JK--mantan ketua umum Golkar, wapres RI periode 2004-2009, mantan aktivis HMI yang terjun sebagai pengusaha--yang paling berpeluang masuk bursa Pilpres 2014 bertandem dengan Jokowi yang diusung PDIP dan Partai Nasdem.

ARB menghadapi jalan sangat terjal menghadapi Pilpres 2014. Nyaris belum ada figur dan tokoh nasional yang disorongkan namanya oleh parpol pendukungnya untuk mendampingi ARB dalam kontestasi Pilpres 2014. ARB pernah menggelar pertemuan dengan Mahfud MD (PKB), tapi itu lebih sebagai obrolan dan silaturrahmi biasa tanpa ada komitmen politik apa pun.

ARB telah bertemu dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, namun demikian jalan kedua partai ini merajut koalisi masih sangat panjang dan penuh tikungan. Sebab, ARB dan Prabowo sama-sama pasang target sebagai capres. Di UU Pilpres tak ada aturan yang mengizinkan tampilnya pasangan capres-capres atau cawapres-cawapres. Yang diizinkan adalah pasangan capres-cawapres.

Nasib politik ARB dan Golkar tak mudah menghadapi Pilpres 2014. Elektabilitas ARB yang tak begitu mengkilat di sejumlah survei elektabilitas capres sebelum Pileg 9 April 2014, tentu menjadi catatan penting bagi parpol manapun berikut elitenya dalam menjalin koalisi dengan Golkar. Bahkan, ada pameo di internal elite Golkar: Golkar Yes, ARB No.

Partai ini seolah-olah tersandera karena kebijakannya sendiri yang memutuskan ARB sebagai capres jauh-jauh hari sebelum Pileg 2014 dihelat. Ketokohan ARB tak begitu meyakinkan, tak begitu kokoh dalam perspektif elite parpol lainnya. Sehingga mereka kelihatan kurang berminat menjalin sinergi politik dengan Golkar sepanjang parpol warisan rezim Orde Baru itu tetap dalam positioning politik: mengajukan tawaran final ARB sebagai capres yang tak bisa ditawar-tawar.

Rapimnas Golkar pada awal Mei 2014 akan menjadi pintu: Apakah Golkar tetap dalam positioning politik lama atau mengalami pergeseran positioning politik ke titik baru, dengan mereview posisi ARB sebagai capres partai ini. Jika alternatif pilihan politik kedua yang menang, Pilpres 2014 telah melahirkan seorang mantan bakal calon presiden (capres).

Ya, inilah politik yang selalu mencari titik keseimbangan antara konflik dengan konsensus. Sama dengan PPP, hakikatnya Golkar juga sedang berada di level konflik laten menghadapi Pilpres 2014. Sedang PPP konfliknya bersifat terbuka. [air/habis]

Awas! Berakhir dengan Status Mantan Bakal Capres?
Rating: 100% based on 975 ratings. 91 user reviews.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.