Bojonegoro (beritajatim.com) - Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Jogjakarta bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro dan Komunitas pemerhati sejarah yang ada di Bojonegoro menggelar pameran kepurbakalaan, Senin (28/04/2014).
Pameran kepurbakalaan yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna Bojonegoro, itu dibuka hingga tanggal 1 Mei mendatang. Pameran dibuka dari pukul 09.00 Wib hingga 20.00 Wib. "Sasaran utamanya pelajar dan warga Bojonegoro umumnya agar lebih mengenal Situs Matar yang ada di Bojonegoro," ujar Novi, penyuluh budaya yang bertugas di kabupaten Bojonegoro.
Tak hanya pameran benda-benda purbakala, dalam pameran ini juga dijadwalkan kuis, talkshow, pemutaran film Sangiran serta interaktif game arkeologi dan puzzle. Pameran yang menganggakat tema 'Nilai Penting Situs Sangiran dan Situs Matar di Kabupaten Bojonegoro' ini gratis dan dibuka untuk umum.
Untuk benda-benda yang dipamerkan ini, selain fosil dari BPSMP sangiran juga dipamerkan fosil-fosil temuan dari para pemerhati sejarah di Bojonegoro. "Jadi untuk adik-adik pelajar maupun warga Bojonegoro harus datang untuk belajar sejarah di pameran ini," imbuhnya.
Seperti diketahui, beberapa benda purba yang dipamerkan diantaranya, fosil Manusia Purba jenis Homo Erectus, Fosil Ikan Hiu, Fosil kerbau, Gading Gajah dan masih banyak lagi jenis fosil molusca. Beberapa fosil yang ditemukan salah satunya di Situr Matar, Desa Ngelo, Kecamatan Malo, Bojonegoro.
Temuan fosil di situs matar sangat menarik, karena bahannya sampai saat ini tidak ada di daerah aliran sungai (DAS) Solo, yakni semacam mata panah yang terbuat dari meteorit. Benda yang diduga digunakan untuk senjata manusia purba tersebut tidak di temukan di sepanjang DAS Solo lain.
Temuan fosil mata panah yang diduga sebagai senjata bagi manusia purba jenis homo erectus itu ditemukan di situs Matar, yang berjarak sekitar 1,5 km dari Das Sungai Bengawan Solo di Desa Ngelo, Kecamatan Malo, Bojonegoro. "Situs matar itu sekitar 165 ribu tahun yang lalu, namun belum ditemukan manusianya (homo erectus)," ungkap Prof. Truman Simanjutak, dari Puslit Arkenas Jakarta dalam kesempatannya.
Ia menjelaskan, bahwa pada zaman dulu manusia purba tinggal di Das Solo hanya bersifat sementara. Jika lingkungan yang ditinggali itu dirasa sudah habis bahan makannya maka mereka akan berpindah tempat dengan membuat rumah-rumahan untuk berteduh. "Manusia purba hanya tinggal sementara di tepian sungai bengawan solo," ungkapnya.
Museum Sangiran sendiri dalam penelitian di Kabupaten Bojonegoro sudah menemukan beberapa fosil, diantaranya peralatan yang digunakan maanusia purba, seperti bola batu, untuk memukul tengkorak hewan, di situs ngandong, sedangkan tulang hewan purba yang di temukan yakni jenis taring buaya, gigi kerbau, rusa dan ada kura-kura. "Kebanyakan hewan yang hidup di air," tambahnya.
Dalam penelitian yang dilakukan Tim Sangiran pada tahun 2012 sudah menemukan sekitar 2.842 fosil dan pada tahun 2013 sebanyak 3.148 fosil. Temuan fosil tersebut kini masih disimpan di Museum Sangiran untuk dilestarikan. [uuk/ted]
Rating: 100% based on 975 ratings. 91 user reviews.
