Vincent Company, Seamus Coleman, dan Steven Gerrard. Tiga nama ini masukdalam Tim Terbaik Liga Primer Inggris versi Professional Footballers Association 2013/2014. Kita tahu Company adalah kapten dan pemain bertahan Manchester City, Coleman adalah pemain bertahan Everton, dan Gerrard adalah skipper Liverpool di barisan tengah. Tak ada yang meragukan kemampuan mereka.
Namun menjelang penobatan sebagai bagian dari Tim Terbaik PFA, mereka mengalami kesamaan nasib: sama-sama melakukan blunder yang membuat posisi klub masing-masing dalam bahaya. Company saat pertandingan melawan Liverpool melakukan sapuan bola tak sempurna yang bisa dimanfaatkan Coutinho, dan memaksa Manchester Biru kalah 2-3 di Anfield.
Gara-gara kekalahan itu, Manchester City harus menggantungkan nasib untuk juara pada penampilan Liverpool. Jika The Reds terpeleset sekali, mereka berpeluang untuk juara.
Coleman menjebol gawang sendiri saat Everton dikalahkan Southampton 0-2 di St. Mary. Padahal, saat itu Merseyside Biru tengah butuh angka untuk bisa bersaing dengan Arsenal ke Liga Champions. Dua gol bunuh diri ke gawang Tim Howard membuat tiket ke Liga Champions terancam melayang.
Blunder teranyar dilakukan Gerrard. Sebuah umpan lunak Cissokho saat Liverpool menjamu Chelsea tidak bisa diantisipasinya. Ia terpeleset, dan penyerang Chelsea Demba Ba berhasil memanfaatkannya saat injury time babak pertama. Liverpool akhirnya kalah 0-2 dan kini giliran mereka bergantung pada terpeleset-tidaknya Manchester City untuk bisa juara Liga Inggris.
Tiga kesialan tersebut semakin menegaskan bahwa tak ada superstar yang sempurna. Kadang mereka justru tersandung pada saat menentukan. Kita tentu masih ingat kapten Chelsea, John Terry, yang terpeleset ketika melakukan tendangan dalam adu penalti final Liga Champions melawan Manchester United. Pemain kebanggaan Stamford Bridge itu akhirnya harus merelakan 'trofi kuping lebar' kepada anak asuhan Alex Ferguson. Hanya gara-gara terpeleset!
Lalu alihkanlah mata sejenak kepada Luis Suarez. Setahun silam, penyerang Liverpool asal Uruguay ini dikenal sebagai biang onar. Ia sempat dihukum gara-gara dakwaan mengucapkan kata-kata berbau rasis kepada Patrice Evra, pemain Manchester Unitede berkulit hitam asal Prancis. Tak cukup itu, pada 21 April 2013, ia menggigit lengan Branislav Ivanovic, pemain bertahan Chelsea, dan dikenai hukuman larangan bermain di 10 pertandingan.
Situasi ini sempat membuat Suarez terpukul. Sejumlah pengamat dan media massa melemparkan spekulasi yang membuat ia tak betah di Anfield. Sebagian kalangan menyayangkan Liverpool yang ngotot mempertahankan Suarez yang dianggap mengotori citra klub. Sementara itu, El Pistolero sudah ingin minggat dari Anfield. Arsenal siap menerimanya.
Namun hidup Suarez bagai drama di Liverpool. Saat sebagian pengamat dan media massa optimis dia akan pindah, ia berbalik 180 derajat. Suarez menyatakan kesetiaan kepada Liverpool dan ingin tetap bermain dalam jangka panjang. Alasannya sederhana: ia dan keluarganya bahagia di kota itu. Anaknya, Delfina, juga sudah menjadi Scouser (sebutan untuk warga asli Liverpool). "Ia hapal lagu You'll Never Walk Alone dan menyukainya," kata Suarez.
Pendukung Liverpool patut mengucapkan terima kasih kepada Gerrard. Suarez mengaku terkesan dengan pola pendekatan sang kapten. Gerrard tak mau terlibat dalam polemik di media massa, dan justru memilih melakukan pendekatan personal kepadanya. Bagi Suarez, itu tanda kerendahan hati.
Suarez pun bertransformasi dari sosok bengal menjadi pemain santun. Ia tak banyak melakukan kesalahan di lapangan. Sebagian orang masih jengkel dan menuduhnya tukang selam alias jago trik untuk mencari penalti.
Namun yang harus diingat, 30 gol Suarez yang dicetak dalam 36 pertandingan Liverpool tak satu pun berasal dari titik putih. Sesama pemain di Liga Inggris pun sepakat menobatkannya menjadi yang terbaik musim ini. Bahkan Evra yang pernah bermasalah dengannya juga memilihnya.
Kisah Company, Coleman, Gerrard, dan Suarez melengkapi drama manusiawi dalam Liga Inggris dan dunia sepak bola umumnya. Tak ada yang sempurna. Namun seperti kata pepatah: form is temporary, but class is permanent. Anda bisa sesekali tampil jelek atau terkena sial. Namun itu semua tak akan bisa menutupi sinar benderang kelas seorang pemain. [wir]
Rating: 100% based on 975 ratings. 91 user reviews.
